B. KEANEHAN UMAT ISLAM

Bukankah hal yang sangat aneh bila suatu umat diwajibkan untuk membangun keimanannya drngan mengkaji alam semesta padahal mereka jauh dari kekuatan, rahasia, dan potensi alam semesta itu sendiri ? Apakah ini jawaban dari firman Allah SWT :

Sesungguhnya dalam menciptakan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orangyang berakal, [yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi [seraya berkata]: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini sengan sia-sia Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191)

Seandainya umat kita (Islam) yang bermalas malasan dan terbuai mimpi-mimpi itu, hidup sendirian (tanpa umat lain) di muka bumi, niscaya beban keterbelakangan akan menjadi masalah pokok dan segala urusan akan menjadi lemah, sedikit atau banyak ! Namun Umat Islam memang telah kalah berlombah dengan umat lain yang memang tidak tidur, umat-umat yang tidak memiliki risalah kenabian, atau memiliki risalah materialistik yang dibangun atas dasar kebatilan dan hawa nafsu. Mereka adalah kaum yang berbuat batil tetapi mampu berlomba dengan membawa semangat dan tekat tinggi. Kita memang mewarisi kebenaran tetapi tiarap (terbius) oleh kekayaan dan kita melihat umat lain dengan sikap apatis dan bodoh, tidak ada kesadaran sedikit pun dengan risalah (kenabian) yang dimiliki kita.

Dalam Kitab Suci kita, “Adamisme” (Adamiyah) adalah simbol ilmu pengetahuan yang mampu mengungguli malaikat. Adam as memiliki keunggulan sehingga berhak menyandang Khalifah di muka bumi. Sedangkan “Adamisme” dalam kehidupan kita dipersepsikan sebagai makanan dan kemewahan untuk saling dengki dan bercongkak ria. Artinya, dipersepsikan sebagai binatang yang sedang turun mencari makanan. Sementara umat lain telah mampu menjelajah rembulan dan angkasa raya sehingga mereka memiliki ilmu pengetahuan yang semakin bertambah. Dalam perlombaan kemajuan itu, mereka meraih kemenangan, menyembelih, dan mencekikserta mengingkari para musuhnya. Sedangkan kita (Umat Islam) menjadi umat inferior dan konsumtif dengan selalu membeli barang-barang dagangan mereka, membekali dari kekayaan mereka, dan meminjam persenjataan mereka. Kesemuanya membutuhkan pembelajaran dari pihak mereka sebelum kita dapat menggunakannya dengan baik.

Saya tidak meragukan bahwa terdapat kerusakan, kebinasaan, dan kelalaian dalam entitas pemikiran (Umat Islam) sehingga kita terjerumus pada kehinaan dan keterbelakangan, dan kita tidak akan terbebas dari semua ini kecuali dengan lenyapnya bencana-bencana ini, dan ketika itulah, kita akan mampu berbuat seperti yang mereka perbuat. Saya memperhatikan adanya beberapa sistem pemerintahan di sana, lalu saya mendapatkan para pemimpin mereka mampu membangun  peradaban tinggi dan eksprimentasi lebih unggul.

Dengan kemampuan berpendapat secara lurus, mereka meminta pendapat pada ahl al-hall wa al-‘aqd di negara mereka. Bersamaan dengan itu, secara ikhlas mereka mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain. Seakan-akan pada lisan setiap mereka terdapat pendapat Abu Bakar yang mengatakan, “Saya diangkat menjadi pemimpin atas kalian, tetapi saya bukanlah orang terbaik diantara kalian. Jika kalian melihat kebaikan, maka bantulah saya, dan jika kalian melihat kejelekan, maka luruskanlah saya.”

Sedangkan persoalan kita ditangani oleh para penguasa yang kerdil dan congkak. Kita tidak mengetahui dari mana mereka datang. Kita mendengar satu dari mereka yang berkata dengan pongah dan sombong: “Saya tidak memperlihatkan kepada kalian kecuali apa yang saya perlihatkan, dan saya tidak memberi petunjuk kepada kalian kecuali jalan petunjuk yang lurus.”

Penyambung lidah kebenaran menyuarakan teriakan Fir’aun (semoga Allah SWT memperburuk keadaannya) sedangkan penyambung lidah kebatilan menyatakan kalimat yang dikemukakan oleh Abu Bakar ash-siddiq (semoga Allah SWT meridhainya). Perbandingan apa itu ? Dan bagaimana kelanjutan dari musibah ini dalam kondisi politik dan pembangunan yang  mencoreng bumi Islam ? Terdapat sebab lain yang di rasa malu untuk disebutkan setelah kami memberangus asap kejelekannya.

Karena kedalaman orang-orang eropa dalam ilmu-ilmu alam semesta atau jagat raya, maka terbukalah pintu-pintu kekayaan bagi mereka. Sesungguhnya potensi-potensi dan rahasia-rahasia yang berhasil mereka singkap merupakan kunci-kunci dari khazanah langit dan bumi. Tidak aneh apabila mereka kemudian memperoleh kemajuan dalam hidup mereka dan tidak heran pula apabila mereka mengenyam kenikmatan dan kesenangan hidup. Mereka (bangsa Eropa) mampu membangun bumi melebihi umat lain dan berkhidmat demi ilmu pengetahuan dalam keadaan kering dan basah, cair dan beku, besi dan emas, tanah dan udara, hampir-hampir mampu mengambil (seluruh) kekayaan bumi. Kemampuan mereka beralih kepada melayani ketamakan manusia. Namun manusia yang mana ?  Manusia yang mengenal penciptaan tetapi tidak mengenal Sang Pencipta, yang merasakan hawa nafsu dalam jasad dan dunianya, tetapi tidak mengetahui nilai guna wahyu dari Allah SWT dan tidak pernah mempersembahkan sesuatu untuk akhirat sebagai simpanannya.

Saya tidak ragu bahwa umat Islam memikul kesalahan yang besar dalam kontradiksi ini. Mereka tidak merasakan kebenaran yang diberikan Allah SWT kepada mereka dan membawa kebenaran itu kepada manusia agar memanfaatkannya. Akibatnya, mayoritas umat Islam adalah miskin dan terpecah belah. Sedangkan kekayaan yang diperoleh sebagian mereka tidak memiliki relasi dengan sisi keahlian pekerjaan yang memberi manfaat bagi dan untuk mereka. Yang  juga ada adalah bahwa umat (Islam) yang banyak jumlahnya ini, telah dililit hutang dan hampir binasa dengan munculnya praktik riba berlipat ganda.

Dalam hubungan dengan hal di atas, saya teringat beberapa hadis yang pernah kami pelajari di masa kecil, tetapi kita tidak mengambil manfaat dengannya setelah kita dewasa !  Antara lain, diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-khudri: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda,

“Aku berlindung dari kekufuran dan hutang.”

Lalu seorang lelaki bertanya,

“Wahai Rasulullah, apakah Engkau menyamakan antara kekufuran dan hutang?”

Rasulullah saw menjawab,

“Ya”

Dalam hadis lain disebutkan,

“Janganlah kalian membuat takut diri kalian setelah sebelumnya ia aman.”

Para sahabat bertanya,

“Apakah gerangan itu, wahai Rasulullah?”

Rasulullah saw menjawab,

“Hutang”

Ada juga hadis riwayat Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda,

“Sesungguhnya dosa yang paling besar di sisi Allah setelah dosa-dosa besar yang di larang Allah adalah seorang lelaki yang meninggalkan hutang dan belum sempat dibayarnya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Jiwa seorang mukmin tergantung dengan hutangnya sampai ia di bayar.”

Semua hadis di atas membicarakan seputar hutang yang banyak dilakukan manusia dalam memenuhi keperluan pribadi dan kesenangan nafsu syahwat, namun sedikit sekali dari mereka yang membayarnya atau bersiap-siap membayarnya. Kefakiran atau kemiskinan itu ada dua macam: miski karena lemah dan malas, atau miskin karena berjuangdan kerja keras, atau karena mengutamakan barang halal meskipun sedikit daripada barang haram yang banyak, atau miskin karena menolak menerimah sogok, daripada imbalan dan hadiah dari seorang penguasa yang zalim. Kemiskinan yang di sebut pada deretan pertama adalah maksiat, dan yang disebut pada deretan kedua adalah terpuji. Kebanyakan yang terjadi pada umat kita (Umat Islam) sekarang adalah berada pada deretan pertama. Umat Islam miskin dan berhutang adalah karena tidak siap menghadapi kesengsaraan, karena tidak mengetahui kunci-kunci kekayaan, dan karena mengorbankankan banyak waktu untuk kebatilan dan kelezatan.

Sesungguhnya keluasan dalam pengetahuan merupakan jalan menuju keluasan dalam kekayaan dan sesungguhnya kemahiran dalam persoalan dunia adalah jalan terdekat untuk mengabdi pada agama.

Seseorang terkadang menderita sakit, lalu putus asa dengan kesembuhannya yang dicarinya, atau dia mengetahui nilai kesehatan lalu berkeinginan keras menggapainya. Terkadang krisis (keuangan) menimpa dirinya, lalu dia memanjangkan tangannya untuk berhutang atau meminta-minta seraya merasakan kehinaan dan kesempitan hari-harinya. Berusaha mengubah sakit (menuju sembuh) dan miskin (menuju kaya)  dengan cara berhutang, adalah sebuah upaya konyol.

Kebanyakan umat Islam yang di selimuti kekerdilan berpikir, menduga bahwa agama ini (Islam) membenci harta benda, mencintai kemiskinan, merelakan para pemeluknya menjadi terbelakang dalam peradaban dunia (kemampuan teknik) dan militer. Atau mengira bahwa sisi materiil peradaban adalah hina, atau sebagian umat Islam harus hidup sebagai pengekorsedangkan orang-orang yang selain mereka sebagai pemilik !  Sungguh, Allah SWT melaknati kelemahan dan kemalasan.

Suatu hari saya melewati sebuah jalan raya dan menemui banyak pekerja yang sedang menggali saluran pipa air dengan dalam agar jaring-jaring yang mengalir menjadi jernih di dalam kampung yang besar ini. Dan saya mengetahui bahwa bantuan Inggris patut disyukuri yang telah membangun  industri dan infrastruktur. Saya memanjangkan tangan untuk membuka beberapa lembar surat kabar. Pada lembaran awal terdapat sua berita, salah satunya bertuliskan: “150 juta dolar bantuan dari Italia untuk Mesir.” Dalam berita lain disebutkan: “Bantuan bahan-bahan makanan Eropa untuk masyarakat Mesir sebesar 10 milyar dolar untuk membantu 400.000 pekerja yang lari dari Irak dan Kuwait pada peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan.”

Sesungguhnya kita (Umat Islam) tidak menyimpang dari risalah Islam saja, bahkan telah lupa tentang keterpautan kita dengan Adam as yang diajarkan Allah SWT tentang nama-nama dan telah diturunkan ke bumi untuk memakmurkannya dengan bekal kecerdasan dan semangat hidup bercucuran keringat dan kepayahan. Pengetahuan apakah yang telah kita (Umat Islam) peroleh apabila dari sisi keagamaan telah tertipu dan dari sisi kemanusiaan telah tersisih? Bukankah kita masih membutuhkan perenungan ulang???

Satu Tanggapan to “B. KEANEHAN UMAT ISLAM”

  1. Mantab Says:

    Artikel bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s