A. SUMBER ILMU MANUSIA

Sumber ilmu yang diperoleh Adam as sehingga mengungguli malaikat adalah alam semesta.

Mengetahui alam semesta adalah kemurnian sisi kemanusiaan, dan tidak mengetahui alam semesta tidak akan memberi nilai guna sedikitpun. Al-Qur’an al-Karim menjelaskan kepada kita tiga alasan agar kita memiliki pengetahuan tentang alam semesta, yaitu :

Pertama, pengetahuan tentang alam semesta menunjukkan adanya Allah SWT. Dia menjelaskan hal ini pada beberapa ayat, seperti yang terdapat pada beberapa sumpah (Allah SWT) atas nama alam semesta di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan kebesaran Allah SWT dalam alam semesta dan pengaturannya. Kita hidup di bawah alam semesta yang bergerak dinamis. Rembulan bergerak mengelilingi bumi, bumi bergerak mengelilingi matahari, dan matahari bergerak memutari orbitnya, kesemuanya bergerak mengikuti peraturan alam semesta. Matahari dan keluarga jagat raya adalah satu dan termasuk bagian dari gugusan jagat raya yang bergerak pada sebuah hamparan jagat raya yang tidak tersingkap keluasannya. Kebiasaan – kebiasaan jagat raya itu memiliki garis edar yang tetap dan teratur ibarat pintalan benang tenun yang terajut rapi. Dalam hubungan ini, Allah SWT berfirman :

“Demi langit yang memiliki jalan – jalan (garis edar). Sesungguhnya kamu benar – benar dalam keadaan berbeda pendapat”.  (QS. Adz-Dzariyat: 7 – 8)

Memang, peredaran benda – benda angkasa yang teratur ibarat rajutan benang akan membuat (manusia) terheran – heran, seperti dalam firman-NYA:

“Maka perhatikanlah berulang – ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak berimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatan kamu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan suatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah”. (QS. Al-Mulk: 3 – 4)

Terkadang seseorang karena kebodohannya memandang terbitnya fajar sampai terbenamnya mentari mendekati kegelapan malam, lalu hilang kembali dengan datangnya siang hari, dia tidak mengetahui bagaimana perjalanan alam semesta ini terajut secara sempurna. Renungkanlah sumpah Allah SWT seperti termaktub dalam ayat ini :

“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang – bintang, yang beredar dan terbenam, dan demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing”. (QS. At-Takwir: 15 – 18)

Persaksian ini senantiasa bergerak mengikuti ketentuan – ketentuan jagat raya yang ada; tidak berhenti dan tidak bertabrakan, sampai Allah SWT mengizinkan matahari untuk terlambat sehingga terbit dari arah barat, dan mengizinkan terhentinya kehidupan dunia dan berakhirnya hari – hari “ujian manusia” dalam keadaan tertawa dan menangis.

Kedua, adanya hubungan kebutuhan hidup manusia dengan alam semesta. Perhatikan firman Allah SWT :

“Dan bumi sesudah dihamparkan-Nya. Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh – tumbuhannya. Dan gunung – gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang – binatang ternakmu”. (QS. An-Nazi’at: 30 – 33)

Bumi, seperti yang saya ketahui, adalah bagian terbatas dari alam semesta yang luas. Bahkan, pijakan hunian kita ( manusia ) tidak dapat mengancam eksistensi bumi, seakan – akan keberadaan alam semesta initercipta karena kita ( manusia ). Perhatikan firman Allah SWT :

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang – bintang itu di tundukkan ( untukmu ) dengan perintah-NYA. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar – benar ada tanda – tanda ( kekuasaan Allah ) bagi kaum yang memahami-(Nya), dan Dia ( menundukkan pula ) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain – lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar – benar terdapat tanda ( kekuasaan Allah ) bagi kaum yang mengambil pelajaran”. (QS.An-Nahl: 12 – 13)

Bukankah sesuatu yang menyedihkan bahwa umat islam di masa modern adalah orang – orang terakhir yang mengetahui hakikat ini? Bangsa selain mereka ( umat islam ) telah mampu menggali ( bahan tambang ) di beberapa negeri dan menghasilkan barang – barang mahal dan murah serta menjualnya dari kelebihan – kelebihan yang di dapat. Sedang kita sendiri berjalan di atas tanah yang mengandung tambang, besi, dan emas; tetapi tidak mengetahui apa yang dikandung di dalamnya. Sampai kemudian datanglah seseorang yang melihat bahwa bumi telah mampu memberikan kandungan – kandungan kekayaannya untuk dimanfaatkan sesuai dengan kehendaknya, lalu dia melempar kelebihan – kelebihannya kepada kita dengan penuh sombong dan congkak. Lantas, apakah kaum intelektual kita ( umat islam ) rela dengan keadaan di atas? Sesungguhnya mengetahui kehidupan dan rahasia alam semesta adalah kewajiban yang lebih utama dari pada kewajiban – kewajiban lain yang di bangun para ahli peradaban yang terkecoh, yang mereka sangka sebagai bagian dari agama padahal justru sangat jauh dari agama.

Ketiga, memelihara beberapa hakikat dan hak. Maka celaka bagi kita ( umat islam ) apabila ahlulbait melempar hanya dengan batu, sedang para pencuri mampu melempar ( senjata ) dari jarak dekat dan jauh. Kebenaran akan segera di rampas, dan hakikat akan hilang. Allah SWT telah memberi ciri khas yang di kandung besi dan manfaatnyadalam pembangunan dan militer. Seperti dalam firman-Nya :

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, ( supaya mereka menggunakan besi itu ) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rosul – rosul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya”. (QS. Al-Hadid: 25)

Maka apakah suatu kaum mampu menolong (agama) Allah SWT dan Rosul-Nya apabila mereka tidak memiliki hubungan dengan besi dan bambu. Pada masa sekarang, peperangan telah meluas, sehingga meliputi wilayah daratan, lautan, dan angkasa. Dan mustahil dapat meraih kesuksesan di bidang ini kecuali dengan menguasai peradaban yang kuat dan maju. Saya tidak henti – hentinya berfikir dan merasa sedih atas kaum yang memahami hadis “kami adalah umat yang ummi” (tidak dapat membaca dan menulis), sebagai umat yang senantiasa memiliki sifat ini sampai akhir masa. Dari pemahaman ini, mereka menolak ilmu hisab falak dan mengingkari prinsip – prinsip fisika yang menjadi landasan bagi pengiriman pesawat – pesawat ruang angkasa serta memungkinkan (bagi mereka) untuk singgah di bulan. Lalu mereka memandang kamu dengan bangga diri seraya berkata, “Apakah kalian mengingkari sunah?”

Kenyataan itu adalah bagian dari keterbelakangan bangsa arab yang berarti telah merusak prinsip – prinsip yang ditetapkan Al-Qur’an al-Karim :

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan di tetapkan-Nya manzilah – manzilah (tempat – tempat) bagi perjalanan bulan itu, sepaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda – tanda (Kebesaran-Nya) kepada orang – orang yang mengetahui”. (QS. Yunus: 5)

Kebenaran ini tidak dapat diketahui kecuali oleh orang – orang yang berilmu. Saya memperhatikan bahwa gambaran tentang ilmu (pengetahuan) biasanya datang ketika ada pembicaraan seputar rahasia, potensi, dan gerakan alam semesta. Renungkanlah firman Allah SWT berikut ini :

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Dialah yang menjadikan bintang – bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda – tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui”. (QS.Al-An’am: 96 – 97)

Dalam hubungannya dengan gemerlapan besarnya alam semesta dan kerendahan (penciptaan) manusia, dapat di perhatikan dalam firman Allah SWT :

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar dari pada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS.Al-Mukmin: 57)

Dalam pembangunan tauhid atas pemikiran dan pandangan yang lurus, Allah SWT mengatakan yang artinya :

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah – buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu – sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (QS.Al-Baqarah: 22)

Kedua ayat di atas hadir untuk melingkupi ilmu pengetahuan produktif, yang akan menghasilkan keyakinan dalam ilmu – ilmu tentang alam semesta yang menyatakan ayat – ayat (tanda – tanda kekuasaan) Allah SWT di langit dan di bumi. Ilmu – ilmu ini sedikit yang kita miliki dan terkadang tidak sama sekali. Dalam konteks ini, perhatikan sepatah seorang penyair :

Sesuatu terlihat sempurna ketika telah tiada

Jangan kamu minta diperintah sedang mereka menyaksikan

Apa yang lebih bernilai bagi akal pikiran dan kekuatan daripada pengetahuan tentang alam semesta dan kehidupan. Adapun dua ayat lain (yang terkait dengan kebesaran alam semesta dan kewajiban belajar tentangnya) adalah :

“Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah – buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan diantara gunung – gunung itu ada garis – garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang – binatang melata dan binatang – binatang ternak ada yang bermacam – macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba – hambaNYA, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS.Fathir:27 – 28)

Itu tidak mengherankan, karena orang – orang yang memiliki akal fikiran sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an adalah orang – orang yang membangun kebenaran dari potensi alam semesta yang besar ini. Perhatikan firman Allah SWT :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda – tanda bagi orang – orang yang berakal, (yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya tuhan kami, Engkau menciptakan ini dengan sia – sia Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran : 190 – 191)

Dengan demikian, maka ungkapan “kami adalah umat yang ummi” menjadi tidak signifikan, seperti halnya khamer yang bersarang di dalam tubuh orang yang mabuk. Hal itu membuat umat Islam meminta – minta pengetahuan dari bangsa lain dan dari umat – umat lain, karena sumber – sumber ilmu pengetahuan yang ada di negeri arab telah kering.

Perhatikanlah perbedaan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu – ilmu peradaban (dunia). Yang pertama (ilmu – ilmu agama) terbatas dan terikat, dan dasarnya adalah mengikuti (ittiba’). Sedang yang kedua (ilmu – ilmu peradaban) bebas, dan dasarnya adalah pengembangan dan penciptaan. Salat dan bersuci misalnya, tidak menuntut pembelajaran kecuali sesaat, dan setiap Muslim setelah mengetahui pembelajaran itu wajib melaksanakannya secara berulang – ulang dan terus – menerus sepanjang umurnya dengan tujuan untuk menyucikan jiwa dan menentramkan rohani, serta mempertalikan jamaah dan mendirikan umat yang saling mengenal berdasarkan suatu sistem dan tujuan. Sedangkan ilmu – ilmu dunia, senantiasa baru dan berubah. Kita memperhatikan pada setengah abad terakhir bahwa pengetahuan manusia menyamai atau bahkan mengungguli apa yang di capai oleh manusia pada abad – abad sebelumnya. Mereka yang mengkaji ilmu – ilmu alam dan mengikuti perkembangan peradaban merasakan hal ini. Yang di sayangkan, umat islam tidak mampu memberi kontribusi terhadap lompatan kemajuan itu. Yang saya maksud adalah umat Islam di abad – abad terakhir. Sedangkan nenek moyang mereka yang terkemuka, peranan mereka di dunia ini tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang – orang yang fanatik buta. Lantas, apa yang di perbuat umat Islam di masa akhir abad itu? Mereka disibukkan dengan perbincangan seputar persoalan – persoalan keagamaan. Penjelasan pesoalan salat misalnya, dapat menghabiskan waktu satu bulan. Demikian pula dengan persoalan wudhu dan mandi.

Perlu dipertegas perbedaan antara spesialisasi ilmiah dan peran atau bagian umum yang harus dimiliki oleh mayoritas umat. Ketika waktu dan pemikiran yang seharusnya di gunanakan untuk ilmu – ilmu kehidupan (peradaban) menjadi terbatas karena habis oleh ilmu – ilmu yang banyak bicara dan sia – sia; maka hampir dapat di pastikan bahwa Islam akan mengalami kekalahan dalam sisi materiil dan moral. Perlu di ketahui bahwa umat Islam masa lalu menyusun ilmu – ilmu ma’ani, bayan, badi’, nahwu, dan sharaf dengan tujuan untuk mengkhidmatkan kemukjizatan bayani (struktur bahasa) yang ada dalam Al-Qur’an al-Karim. Dan pengkhidmatan kepada Kitab Suci ini juga membutuhkan kemampuan di bidang ilmu – ilmu kehidupan, seperti fisika, kimia, astronomi, geologi, dan sebagainya.ketidaktahuan atau ketidakmampuan atas ilmu – ilmu ini dapat di sebut telah melakukan pengkhianatan atas Islam dan Kitab Sucinya yang mulia. Dan pengkhianatan secara agama ini, pada akhirnya juga membuahkan pengkhianatan kemanusiaan universal bagi risalah kenabian Adam as yang telah di beri pelajaran nama – nama (asma’) sehingga menyebabkan bumi menjadi hina, daratan dan lautan menjadi meninggi di dalamnya. Mengapa umat selain kita mampu menyelam kedalam air dan mengarungi samudera luas, sementara kita hanya menyaksikan dengan tercengang ? mengapa mereka mampu menciptakan tenaga listrikdan atom, sementara kita tidak mampu berbuat apa – apa kecuali bertikai? Kita bahkan mengancam seseorang yang mengecam nafsu – nafsu kita!!

 

2 Tanggapan to “A. SUMBER ILMU MANUSIA”

  1. bagus bgt wat memotivasi
    khususnya wat ana yg sedang gencar mencari ilmu
    semoga dengan ilmu kita semua bisa memahami
    tanda tanda kekuasaan allah swt ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s