1 ISLAMISASI PENGETAHUAN DAN PENGETAHUAN ISLAMI

1

Islamisasi pengetahuan dan pengetahuan islam

 

Apakah ilmu yang pertama kali di terima Adam as, dari Tuhannya ?? Dengan ilmu, Dia meninggikan posisi dan performa Adam as, dan menegaskan kepada malaikat bahwa Adam as, patut mendapatkan kehidupan dan menjadi khalifah di muka bumi serta menjadi pemimpin di seluruh alam. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dia mengajarkan Adam as, seluruh nama – nama, lalu mengemukakan kepada malaikat seraya berfirman: “Sebutkanlah kepada-KU nama benda – benda itu jika kalian memang orang – orang yang benar!” para malaikat itu menjawab : “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajrkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama – nama benda itu.” (QS. Al-Baqarah: 31 – 33)

Apa yang disebut dengan nama – nama (Asma’) itu?  Dan apa pula sesuatu yang di beri nama itu? Saya tidak akan memberi interpretasi terlalu jauh, melainkan tetap bersandar pada konteks pembicaraan dalam Al-Qur’an al-Karim. Sebelumnya, Allah SWT berfirman :

Dialah yang menciptakan bagi kalian apa – apa yang ada di bumi semuanya. (QS. Al-Baqarah: 29)

Ayat itu bersifat umum dan global yang turunnya didahului oleh ayat – ayat yang merinci secara lebih jelas, yaitu :

Dan sungguh kami telah menempatkan kalian di bumi dan menjadikan penghidupan didalamnya bagi kalian, sedikit sekali dari kalian yang bersyukur. Dan sungguh Kami telah menciptakan dan membentuk kalian, lalu Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kepada Adam.” (QS. Al-A’raf: 10 – 11)

Tampak dapat dikatakan bahwa ilmu yang khusus di terima Adam as, berkaitan dengan persoalan kehidupan di bumi, cara meramaikan, menggali potensi dan rahasia yang terkandung di dalamnya. Namun bumi bukan satu – satunya tempat kehidupan manusia, melainkan salah satu dari galaksi matahari, dan kehidupan di atas tanah bumi terkait dengan gugusan bintang – bintang di langit. Karenanya, pengetahuan anak – anak Adam harus meluas melingkupi ilmu – ilmu alam semesta dan kehidupan.

Kita tidak perlu berpersepsi bahwa Adam mengetahui atau menguasai kimia, fisika, dan astronomi, tetapi kita cukup berpersepsi bahwa Dia mengetahui abjad – abjad yang membentuk ilmu – ilmu tersebut melalui riset dan eksprimen yang terus menerus. Adam di beri akal pikiran aktif yang mampu memberi ukuran dan pilihan bagi unsur – unsur alam semesta, seperti halnya mampu memberi ukuran bagi ayat – ayat Allah SWT di alam langit yang besar ini. Dalil kebesaran alam semesta ini yang berdasarkan besarnya struktur alam ini, menunjukkan besrnya Sang Pencipta alam itu sendiri. Tidakkah Allah SWT menciptakan alam semesta ini hanya untuk tujuan ini?  Allah SWT berfirman :

“Allah yang menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Perintah Allah berlaku padanya agar kalian mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq : 12)

Sesungguhnya Allah SWT menciptakan alam semesta ini agar kita (manusia) mengetahui kekuasaan ciptaan-NYA sehingga mampu memberi penghargaan dengan sebenar – benarnya, lalu kita memuji kebesaran-NYA. Perpindahan dari ketidaktahuan menuju pengetahuan adalah sangat berat, terkadang membutuhkan beberapa generasi. Ini adalah risalah Adam as, dan anak – anaknya di muka bumi yang membedakanya dari malaikat dan meneguhkan diri sebagai makhluk yang berhak mengemban tampuk perwakilan (khilafah) Allah SWT di muka bumi. Sungguh saya heran kepada umat – umat yang hidup di atas bumi tetapi tidak mengetahui apa yang ada padanya dan apa yang ada dibawahnya disebabkan kedangkalan berpikir yang masih membutuhkan pengasuhan dan pengayoman. Itulah umat – umat yang tidak dapat menguasai bumi padahal mereka di beri kemampuan – kemampuan untuk menguasainya. Mereka tidak dapat mencari penghidupan bagi dirinya kecuali seperti binatang pelanduk yang mencari kemurahan makanan dari tanah yang hitam.

Adam as, sebagai bapak manusia, telah diajarkan nama – nama, namun mereka (manusia) tidak mengetahui nama – nama itu, baik sebagiannya maupun semuanya. Dan saya termasuk satu dari orang – orang Muslim yang merenungi peristiwa masa ini. Saya ingat kekuasaan Zulkarnain yang menguasai suatu kaum di mana mereka tidak mampu melewati seperti apa yang dicapainya. Perhatikan firman Allah SWT :

“Sehingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” (QS. Al-Kahfi: 93)

Apa yang dituntut kaum yang lemah itu ? Mereka menuntut hadirnya seorang atau pemimpin yang mampu mengayomi dan melindungi mereka dari serangan para musuh, dan yang mampu membangun benteng – benteng untuk mengamankan diri mereka. Ini karena mereka tidak mampu mendirikan benteng – benteng itu. Pengetahuan mereka tentang kehidupan adalah dangkal dan bagian dari penguasaan mereka juga sedikit. Pertautan ilmiah mereka dengan Adam lebih sebatas praduga. Lama saya mengeluh bahwa sisi kemanusiaan universal menjadi tumpul dalam kehidupan Islam modern. Terkadang kelemahan pandangan seperti ini terdapat pada beberapa generasi yang meramaikan bumi, sehingga sebagian dari tugas para nabi Allah SWT adalah memperkenalkan kepada manusia bagaimana mereka memelihara diri sendiri dan keyakinan keagamaan serta ritual keagamaan mereka.

Dalam konteks ini, Allah SWT berfirman kepada Nabi Daud as, yang artinya sebagai berikut :

“Dan kami mengajarkan Daud membuat baju besi untuk kalian, guna memelihara kalian dalam peperangan. Hendaklah kalian menjadi orang – orang yang bersyukur (kepada Allah).” (QS. Al-Anbiya’ : 80)

Sesungguhnya pengetahuan hidup adalah persoalan kemanusiaan universal, dan penguasaan terhadap bumi adalah hak setiap anak – anak Adam. Sedangkan kebodohan dan kelemahan merupakan aib yang dapat menelanjangi kepribadian dan risalah anak – anak Adam as itu sendiri. Seorang manusia tidak dapat disebut sebenar – benar manusia apabila akal pikirannya tidak difungsikan dan panca inderanya masih menyerupai binatang melata yang mencari makan dan penghidupan secara naluriah dan insting kebinatangan seperti yang terdapat pada anjing dan serigala.

Kita kembali kepada bapak kita, Adam as. Betapa berat keadaan yang dia terimah dimana harus turun ke bumi secara susah payah agar tetap eksis. Adam as berusaha keras untuk mencari penghidupan dan rezeki agar tidak kelaparan dan telanjang. Ini akibat kelemahan kehendak, dikuasai oleh rupa, dan tertipu oleh bisikan setan. Adam as turun ke bumi dengan di bekali pengetahuan teoritas baru tentang kehidupan, meskipun persoalan antara ilmu teoritas dan kepayahan realitas saat itu masih kacau. Dan Adam as harus mengingat dan menghormati perintah Tuhannya. Dalam Al-Qur’an Al-Karim, di katakan kepada Adam as dan setan yang telah menipunya :

“Turunlah kamu berdua dari surga bersama – sama sebagaimana kamu menjadi musuh atas sebagian lainnya. Jika datang kepadamu sebuah petunjuk dari-KU, lalu siapa yang mengikuti petunjuk-KU, dia tidak akan sesat dan celaka. Dan siapa berpaling dari peringatan-KU, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”(QS. Thaha : 123 – 124)

Bapak kita, Adam as, telah menerimah ilmu pengetahuan langsung dari Tuhannya, mempelajari perintah dan larangan-NYA. Jadi imannya kepada-NYA adalah iman yang berlandaskan persaksian. Lalu terjadilah kesalahan itu. Perhatikan firman Allah SWT :

“Kemudian Tuhannya memilihnya (Adam as) lalu Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. (QS. Thaha : 122)

Kemudian Adam as memulai kehidupannya di muka bumi seraya berkeyakinan bahwa segalanya dari dan hanya untuk Allah SWT, dia memulai dan mengakhiri, serta bahwa ia dan para nabi sesudahnya harus selalu memiliki hakikat ini, sehingga seseorang tidak boleh lupa dari mana dan kemana dia akan kembali. Penyebutan berita di atas yang wajib dan sumber – sumbernya memancar dari kedalaman bumi dan ufuk langit secara berimbang. Sesungguhnya tanah pekat ini, ketika terpancar darinya perahan anggur dan bahan – bahan mentah, pada dasarnya juga membincang tentang Tuhannya. Demikian juga penyebutan tentang hembusan angin yang memperjalankan awan ke penjuru dunia, adalah penyebutan tentang Tuhan.

Manusia yang di ciptakan dari air hina (sperma) memulai hidupnya dari masa bayi yang belum mengetahui masa depannya: apakah kelak akan menjadi manusia cerdas atau penguasa otoriter yang celaka? Manusia ini —baik senang maupun tidak —berbicara tentang Tuhannya. Ia tidak menciptakan dirinya; orang tuanya pun tidak menciptakannya. Yang menciptakan dirinya tidak lain adalah Allah SWT. Iman penyaksian pada Adam as,berubah pada generasi anak – anaknya menjadi iman pemikiran, lalu menuju iman yang gaib. Hanya saja kandungan – kandungan iman inisangat banyak. Dasrnya adalah bahwa Adam as yang menguasai ilmu kehidupan ketika diajarkan nama – nama sesuatu, mengenal Tuhannya dan mengenal apa – apa yang menunjukkan-Nya di alam yang besar ini tempat ia di turunkan. Adam as adalah makhluk yang mengenal Sang Penciptanya, yang mengikuti perintah “Tuannya”, dan yang melalui pengalaman yang sulit di mana ia dan keturunannya harus dapat meraih kesuksesan di dalam hal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s